Museum Buya HAMKA yang Minim Promosi

Menyusuri selingkaran Danau Maninjau dengan bersepeda ria atau dengan menggunakan motor sambil menikmati riak pemandangan sekeliling danau membuat kita terhanyut keindahan pemandangan yang asri dan mungkin tidak terlupa. istirahat sejenak di tepian danau yang ditemanani makanan khas maninjau, palai rinuak ataupun pensi cukup melepaskan semua lelah. oh nikmatnya….eh ternyata disini ada museum juga…hmmm…boleh uga nih..sambil nambah-nambah ilmu..tapi kok sepi aja yah…

Di tepi Danau Maninjau, Di suatu kampung bernama Tanah Sirah, dalam Nagari Sungai Batang, di situlah rumah orangtuaku. Aku masih teringat sebuah rumah atap ijuk bergonjong empat, menghadap ke Danau, membelakang ke timur. Halamannya tidak luas, sebab rumah itu di lereng bukit. Dipinggir halaman, ditanam Anduang (nenek) bungaraya putih, yang senantiasa dipangkas agar mudah bagi ibuku menjemur kain.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Begitulah Hamka mengawali kisah hidup yang tertuang dalam otobiografi berjudul kenang-kenangan hidup.  Secara umum, gambaran seperti dituturkan Buya ini tak banyak berubah. Ditempat ini masih tegak rumah bergonjong—sebutan rumah adat Minangkabau—dengan empat tanduk. Letak, masih dilereng bukit, menghadap Danau Maninjau nan permai. Halamannya tak luas-luas benar, yang masih juga dihias bunga-bungaan.

Cuma, ada sejumlah detail yang kini–100 tahun kemudian—jauh berbeda. Rumah itu bukan lagi rumah tua karena sudah di renovasi total dengan tetap mempertahankan model aslinya. Atapnya tak lagi terbuat dari ijuk, melainkan bersalut atap modern. Kini halamannya pun ditutupi rerumputan dan dihiasin bunga aneka warna yang terawat baik. Untuk sampai kerumah itu, pengunjung meski melewati mendaki jenjang semen berbentuk huruf U setinggi kira-kira empat meter. Yang paling berbeda, rumah itu bukan lagi rumah tinggal. Banguanan itu sudah menjadi Museum rumah kelahiran Buya Hamka.

Museum ini sudah berjalan enam tahun,”ujar Hanif Rasyid, pengelola sekaligus penanggung jawab museum itu. Ia menuturkan, Bangunan ini diresmikan pada 11 November 2001 oleh H. Zainal Bakar, gubernur Sumatera Barat masa itu. Adalah Zainal Bakar pula yang sedari awal menggagas pembangunan Buya Hamka.Tak mengherankan pula pada saat itu pemerintah Sumatera Barat menyisihkan Rp 500 juta dari APBD untuk membiayai pembangunan kembali Rumah Hamka itu.

Selain itu, menurut Hanif, ada juga sumbangan lagi yang berasal dari Pribad-pribadi. Tanpa mengatakan jumlahnya, Hanif menyebut nama tokoh ABIM, Angkatan Belia Islam Malaysia, Bernama Datuk Hakim sebagai Donatur perorangan, Disamping beberapa pengusaha asal Sumatera Barat.

“dengan Sumbangan-Sumbangan itu, Pembangunan museum ini selesai dalam waktu 11 bulan,” katanya.

 

Naik kehalaman Museum, di tepi sebelah utara berdiri sebuah Musholah. Di dalam museum itu tersimpaan berbagai peninggalan Buya Hamka. Ada ruang tidur yang berisi ranjang bersalut kelambu yang dulu sempat menjadi tempat tidur sang Buya. Di sudut ruangan lainnyatampak pula beraneka barang, seperti sebilah tongkat yang dalam rak tersendiri,dua kursi rotan, juag ada lemari kaca berisi jubah dan juga aksesoris lain yang biasa dikenakan Buya. Di semua dinding banyak tergantung foto Buya.”Benda benda peninggalan ini sumbangan dari berbagai pihak, terutama dari keluarga Buya Hamka,” kata Hanif lagi.

 

Ada pula ruang khusus untuk menerima tamu yang dilengapi kursi terukir. Disebelah ruang tanu, tersususn lima rak buku kaca tempat menyimpan buku-buku koleksi museum yang jumlahnya sekitar 200 judul.” Sayang, dari sekitar 118 karya Buya, yang tersimpan disini hanya 28 judul,” ujar Hanif. Ia menambahkan, semua buku itu pun bukan berupa terbitan pertama karya Hamka.

Ihwal koleksi buku ini, ada cerita cukup menyedihkan diungkap Rusydi HAmka, anak kedua Buya. Dalam suatu masa, keluarga Hamka menitipkan seluruh pembendaharaan  buku Buya Hamka di kantor pengurus pusat Muhammadiyah di Jakarta. Lalu, tak lama setelah museum Hamka berdiri, seluruh buku itu rencananya disimpan di sana, Tragisnya, semua buku yang di ambil dari kantor Muhammadiyah itu hilang ditengah jalan setelah di kirim ke Sumatera Barat.

 

“Ini tragis sekali. Tak ada yang mengaku bertanggung jawab atas kehilangan itu. Dua peti penuh buku, ratusan judul, yang saya alamatkan ke seorang pengusaha disana lenyap begitu saja di tengah jalan,” kata Rusydi dengan nada sedih. Ia menambahkan,padahal sebagian besar adalah   buku klasik berbahasa Arab yang langka milik Buya, termasuk seluruh karya Buya sendiri. Sedangkan yang ada di museum itu kini seluruhnya koleksi Rusydi.

Soal kepengurusan museum itu, menurut Rusydi, memang diserahkan kepada keluarga dari suku asli marga Ayahnya, Tanjuang. Rusydi sendiri bersama seluruh anak Hamka bersuku Guci, mengikuti suku ibunya. Sesuai dengan adat Minang, rumah itu berdiri di atas tanah suku Tanjuang. Jadi, pengelolaannya menjadi hak suku Tanjuang dan Hanif-lah yang dipercayai untuk itu. Sedang kan kami (anak-anak Buya Hamka) sekadar mengisi koleksinya, Ujar Rusydi lagi.

Soal pemeliharaan museum selama ini, Rusydi mengaku tak banyak tahu. Tapi,menurut Hanif, Dinas pariwisata, seni, dan budaya kabupaten Agam ikut berperan dalam pemeliharaannya. “Kami mendapat bantuan dari lembaga itu, di samping juga bantuan pribadi dari orang-orang yang dating kesini,” katanya tanpa merinci bentuk dan jumlah bantuan itu.

Ketika GATRA singgah ke Museum itu, hanya tampak beberapa pengunjung — bisa dihitung dengan jari sebelah tangan. Menurut Hanif, di akhir pekan atau hari libur, cukup banyak orang yang mengunjungi miseum ini. Tragisnya, kebanyakan mereka bukan orang Indonesia, melainkan warga Malaysia, Singapura, atau Brunei Darussalam. “Biasanya warga Malaysia yang datang ke sini sampai menggunakan dua-tiga bus penuh,” ujar Hanif.

Sayang, memang, bila museum ini ternyata tak begitu menarik hati masyarakat Indonesia. Atau barangkali memang kurangnya promosi tentang keberadaan museum itu sendiri, seperti juga kesan kurangnya promosi dan informasi tentang daerah wisata di Sumatera Barat. ”Terus terang saya baru sekali ini datang melihat karena baru tahu ada museum Hamka di sini,” ujar Desnawati, Seorang warga Bukittinggi yang singgah pada hari itu.

Kurangnya promosi dan sebaran informasi tentang museum boleh jadi itulah soalnya. Disamping memang karena, ternyata, nama Buya Hamka justru sangat popular dimata warga negeri Jiran. Tak seperti di banyak negeri lain, begitu kita menjejakkan kaki di pintu keluar Bandar udara tersedia beragam informasi  tempat wisata dan museum, di Bandar udara Internasional Minangkabau tak sehelai pun informasi serupa kita dapati. Itulah, barangkali, satu hal yang paling penting dibenahi

~ oleh n3r5mukhli5 pada Januari 5, 2012.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: